Orang Islam Harus Kaya

image

Hidup kaya, mau? Jawabnya pasti mau. Sebab hidup kaya lebih bermanfaat dan dapat memberikan yang terbaik kepada orang lain. Dengan kekayaan kita akan bisa mengulurkan tangan dan membantu dengan lebih banyak. Kita akan leluasa dalam bersedekah dan melakukan aktivitas sosial semisal menentaskan kemiskinan anak yatim, mendirikan panti-panti, menyumbang pembangunan rumah ibadah, berangkat umroh & haji ke Mekkah, dan lain sebagainya. Jika tidak kaya, darimanakah dana untuk keperluan itu. Karenanya, orang Islam harus kaya.!

Kalimat “Orang Islam Harus Kaya”, bukanlah sesuatu yang extreme. Rasulullah SAW telah memberi rambu-rambu, “Bekerjalah kamu seakan-akan hidup seribu tahun lagi, beribadahlah kamu seakan-akan mati besok pagi”.
Dibalik hadist tersebut tersirat sebuah pesan bahwa orang Islam harus kaya dan menjadi terdepan dalam perekonomian global. Rasulullah tidak menghendaki umatnya miskin dan dilindas oleh keadaan. Sebab dalam hadist lain diterangkan, “kefakiran lebih dekat dengan kekafiran.”

Jika dirunut dari sejarah, Muhammad ketika masih remaja, ia adalah seorang pekerja keras dan sudah termasuk sebagai pemuda kaya.  Ia belajar dari pamannya, Abu Thalib, Menjadi pedagang yang jujur dan sukses. Oleh Karena kejujuran dan kesuksesannya dalam berbisnis, maka Khadijah janda kaya, juga seorang pedagang tertarik terhadap Muhammad. Wanita milyuner itu mengangkat Muhammad sebagai pegawainya untuk dipercaya mengelola bisnisnya. Dan pengalaman yang tidak dilupakan sepanjang sejarah, adalah bagaimana kiat Muhammad menawarkan barang dagangannya. Pembeli berkerumun dan merasa puas. Ini akibat kepiawaiannya dalam berjual beli tanpa harus mengorbankan kejujuran. Bahkan karena kejujurannya itulah sehingga pelanggannya semakin banyak.

Abu Bakar juga dikenal sebagai seorang yang kaya raya. Abu Sufyan pun demikian. Banyak para sahabat yang kaya raya. Dengan kakayaan itu, Perjuangan Islam menjadi dinamis hingga mampu mencapai kejayaan. Peperangan dan politik tentu membutuhkan dana besar. Tanpa ditopang oleh dana, keberhasilan perjuangan politik Rasulullah tidak mungkin dicapai secepat itu.

Rasulullah SAW dan para Sahabatnya telah memberi contoh, bahwa mereka tidak menghindar dari kekayaan. Mereka bekerja keras untuk menjemput rejeki. Namun ikhtiar mereka tentu saja tidak membabi buta. Mereka tetap bekerja keras dan hasil akhir dari upaya itu disandarkan kepada Allah. Sebab Allah jua yang berhak memberikan rejeki  atas jerih payah mereka.

Kaya menjadi seseorang bisa mulia. Artinya, jika kita kaya dan mempunyai akhlak baik, tawadhu’ (tidak sombong), gemar memberi kepada orang lain, maka kemuliaan akan kita dapatkan. Kemuliaan ini utuh, karena kita dimuliakan sesama manusia dan dimuliakan oleh Allah SWT.

Berarti kaya merupakan sarana untuk memudahkan kita dalam menempuh kesempurnaan dalam beribadah. Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Ini adalah hadist Rasul. Sekarang coba untuk bertanya pada diri sendiri, Dalam hidup ini, sukakah jika kita sebagai golongan orang yang memiliki tangan dibawah? Tentu tidak. Tangan dibawah artinya, senantiasa mengharapkan bantuan orang lain. Senantiasa membutuhkan sesuatu dalam menjalani hidup. Kita pasti ingin lebih terhormat. Untuk mencapai itu, maka perlulah tangan diatas. Artinya menjadi manusia yang suka memberikan pertolongan kepada orang lain. Hidup akan berarti apabila kita dapat memberikan sesuatu yang terbaik kapada sesama.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita mampu memberikan pertolongan, sementara diri sendiri butuh bantuan orang lain? Orang yang mampu memberikan pertolongan kepada orang lain dalam hal materi  adalah orang yang kaya. Karena itu, sekali lagi, bangkitkan potensi diri dan buka keajaiban rejeki dengan mengulang-ulang pernyataan “Hidup Harus Kaya!” .

Wed, 25 Apr 2012 @11:22


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 3+1+4

Copyright © 2018 | jasawebsitesemarang.com · All Rights Reserved